Sabtu, 26 Maret 2011


Mengganti Domain Blogspot Ke CO.CC

Contoh awal alamat blog http://www.om-rame.blogspot.com, lalu akhirnya diperpendek dengan menggunakan domain lain menjadi http://www.omrame.co.cc. Nah, berarti domain yang digunakan adalah co.cc.

Sebenarnya sih sama aja, hanya dari blogspot dialihkan ke co.cc. Tapi dengan tampilan baru tersebut cuma biar kelihatan agak keren aja gitu lho. Domain ini tergolong dalam kategori gratisan, adapun langkah-langkah seperti di bawah ini.

1. Menuju situs co.cc. Biar gampang utak atiknya lebih baik menggunakan bahasa Indonesia, kecuali sudah bisa mengartikan bahasa was-wes-wos.

2. Cek ketersediaan nama alamat blog yang di inginkan, misalnya http://www.omrame.co.cc.

3. Bila nama alamat blog yang di inginkan tidak tersedia, maka harus dicoba kembali dengan nama lainnya. Sedangkan bila tersedia, bisa melanjutkan proses pendaftaran.

4. Lakukan pengisian form untuk membuat akun. Bila sebelumnya sudah memiliki akun, maka klik sign in. Bila belum memiliki akun, klik buat akun baru sekarang.

5. Selanjutnya mengisi data-data sesuai dengan form yang sudah tersedia.

6. Data sudah terisi dengan lengkap. Lalu beri tanda centang pada bagian kolom kecil disebelah tulisan warna merah.

7. Setelah semua proses berhasil dilakukan Lanjut untuk setting domain, klik setup.

8. Klik pada bagian nomer 2, adalah Zone Record. Lalu, isi form yang sudah tersedia, beri tanda tanda centang dan klik setup.

9. Proses registrasi sudah dan setting domain di co.cc, selanjutnya tinggal setting di blogspot

GOOD LUCK . . .

Rabu, 16 Maret 2011

Supermoon 19 Maret Picu Bencana Besar?

Pada 19 Maret 2011 bulan berada dalam jarak terdekatnya dengan bumi, dalam waktu 18 tahun.
Sabtu pekan depan, 19 Maret 2011, bulan akan berada dalam jarak terdekatnya dengan bumi dalam kurun waktu 18 tahun terakhir--hanya sekitar 221.567 mil atau 356.578 kilometer. Fenomena mendekatnya bulan ke bumi itu disebut 'lunar perigee'. Tapi ada juga astrolog yang menyebutnya 'supermoon'.

Di sejumlah media terkemuka internasional, isu supermoon kini mengemuka. Apalagi, fenomena itu dikait-kaitkan dengan ancaman sejumlah bencana seperti gelombang pasang, letusan gunung berapi, bahkan gempa bumi.

Para penganut teori konspirasi bahkan mengatakan, tsunami Aceh 2004 yang merenggut lebih dari 200 ribu nyawa terjadi dua minggu sebelum supermoon 2005. Begitu juga dengan bencana angin siklon Tracy yang menyapu Darwin Australia di tahun 1974.

Benarkah supermoon akan membawa bencana bagi bumi?

"Kabar menghebohkan itu tidak ilmiah, ada bumbu-bumbunya. Supermoon tidak berarti bencana," kata astronom Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, kepada VIVAnews.com.

Posisi bulan mendekati bumi, tambah dia, hanya akan berpengaruh pada efek pasang surut. "Rata-rata maksimal tergantung kondisi pantainya."

Dijelaskan Thomas, fenomena lunar perigee bukanlah hal yang istimewa. "Itu hanya posisi reguler. Orbit benda langit memang ada di jarak terdekat (perigee) dan terjauh (apogee)," tambah dia.

Namun, Thomas juga mengakui fenomena yang akan terjadi seminggu lagi itu tak biasa. "Istimewanya, kebetulan waktunya dekat dengan bulan purnama," kata Thomas. Dijelaskan pada 19 Maret, fenomena lunar perigee yang memiliki siklus sekitar 27,3 hari terjadi bersamaan dengan bulan purnama yang muncul tiap 29 hari.

Selama terjadi lunar perigee dan purnama, permukaan bulan akan tampak 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari bulan purnama.

Pendapat Thomas senada dengan para astronom lainnya. Pete Wheeler dari International Centre for Radio Astronomy juga membantah anggapan bahwa supermoon bakal membawa bencana. "Tak akan ada gempa bumi atau gunung meletus," kata dia seperti dimuat News.com.au, Jumat, 4 Maret 2011. "Kalau memang itu terjadi, itu sudah ditakdirkan."

Kata dia, saat itu bumi memang akan mengalami pasang lebih tinggi dan surut lebih rendah dari biasanya. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan," tambah Wheeler.

Sementara itu, pakar bumi dan planet dari Adelaide University, Dr. Victor Gostin punya pendapat agak berbeda. Dia mengatakan, selama ini prediksi cuaca, gempa, gunung meletus, dan bencana alam lainnya berdasarkan konfigurasi planet tidak pernah akurat sepenuhnya. Namun, menurut dia dimungkinkan ada suatu korelasi antara gempa bumi berskala besar di dekat katulistiwa dan kondisi bulan. "Analoginya seperti pasang surut air laut, pergerakan bumi akibat gravitasi bulan bisa memicu gempa bumi."